Jumat, 10 Februari 2012

MAKALAH KEPEMIMPINAN

MAKALAH
KEPEMIMPINAN

BAB 1
PENDAHULUAN
I.1  LATAR BELAKANG MASALAH
            Sejak dari lahir hingga mati manusia tidak akan dapat hidup sendiri dan tak akan lepas dari yang namanya hubungan saling bantu membantu antar manusia oleh karena itu manusia disebut sebagai makhluk social yang dalam kehidupan nya saling berkelompok.
            Dalam suatu kelompok pastilah ada salah satu diantara beberapa orang tersebut untuk dijadikan sebagai pacuan atau sebagai panduan dalam menghadapi semua masalah-masalah yang mungkin timbul dalam realita kehidupan. Dimana orang tersebut diharapkan mampu memimpin dirinya sendiri keluarga dan anggota-anggtanya ke jalan yang baik. Disinilah dituntut kearifan seorang pemimpin dalam mengambil keputusan agar masalah dapat terselesaikan dengan baik.
I.2 RUMUSAN MASALAH
Dari latar belakang masalah yang telah diuraikan dalam latar belakang, terdapat beberapa permasalahan, antara lain :
1.      Bagaimana hakikat menjadi seorang pemimpin?
2.      Adakah teori – teori untuk menjadi pemimpin yang baik?
3.      Apa & bagaimana menjadi pemimpin yang melayani?
4.      Apa & bagaimana menjadi pemimpin sejati?
5.      Bagaimana hubungan kearifan lokal dengan kepemimpinan?
I.3 TUJUAN PENULISAN
Adapun tujuan penulisan karya tulis ini adalah :
1.      Penulis ingin memberikan gambaran mengenai sisi baik kepemimpinan.
2.      Agar mahasiswa lebih memahami dan mendalami mengenai kepemimpinan
3.      Agar mahasiswa kelak bisa menjadi pemimpin yang menjadi teladan dan pedoman bagi bawahanya.
I.4 METODE PENULISAN
Dari beberapa metode yang ada penulis dalam menyelesaikan makalah ini menggunakan metode kepustakaan. Yaitu, dalam pencarian bahan materi kepemimpinan dilakukan dengan memenggambil dari buku-buku yang ada, karena dalam buku-buku lebih jelas dan mudah di pahami.
I.5 RUANG LINGKUP
            Mengingat keterbatasan penulis dan Guna untuk melengkapi tugas mata kuliah kepemimpinan maka ruang lingkup makalah ini hanya terbatas pada konsep-konsep dasar kepemimpinan dan hubunganya dengan kearifan lokal.
BAB II
PEMBAHASAN
II.1 HAKIKAT KEPEMIMPINAN
Kepemimpinan berasal dari kata pimpin yang mengandung pengertian mengarahkan, membina atau mengatur, menuntun dan juga menunjukkan ataupun mempengaruhi. Pemimpin mempunyai tanggung jawab baik secara fisik maupun spiritual terhadap keberhasilan aktivitas kerja dari yang dipimpin, sehingga menjadi pemimpin itu tidak mudah dan tidak akan setiap orang mempunyai kesamaan di dalam menjalankan ke-pemimpinannya.
Beberapa ahli berpandapat tentang Pemimpin, beberapa diantaranya :
·  Menurut Drs. H. Malayu S.P. Hasibuan, Pemimpin adalah seseorang dengan wewenang kepemimpinannya mengarahkan bawahannya untuk mengerjakan sebagian dari pekerjaannya dalam mencapai tujuan.
·  Menurut Lao Tzu, Pemimpin yang baik adalah seorang yang membantu mengembangkan orang lain, sehingga akhirnya mereka tidak lagi memerlukan pemimpinnya itu.
· Menurut Davis and Filley, Pemimpin adalah seseorang yang menduduki suatu posisi  manajemen atau seseorang yang melakukan suatu pekerjaan memimpin
Jadi kesimpulanya, Kepemimpinan adalah kemampuan seseorang mempengaruhi dan memotivasi orang lain untuk melakukan sesuatu sesuai tujuan bersama
Para pemimpin dan orang yang dipimpin haruslah memahami hakikat memimpin, berikutini dikemukan beberapa pandangan yang mendalam tentang hakikat memimpin sebagaiberikut:
Tanggung jawab Bukan Keistimewaan.
Ketika seorang diangkat atau ditunjuk untuk memimpin suatu lembaga atau institusi, maka ia sebenarnya ia mengembantanggungjawab yang besar sebagai seorang pemimpin dan harus mampumempertanggungjawabkannya. Bukan hanya dihadapan manusia, tapi juga jugadihadapan Tuhan.
Melayani bukan dilayani dan sewenang-wenang
Menjadi pemimpin atau pejabat berarti mendapatkan kewenangan yang besar untuk bisa melayani masyarakat dengan pelayanan yang lebih baik dari pemimpin sebelumnya. Maka untuk meningkatkan kesejahteraan hidup,  setiap pemimpin harus memiliki visi dan misi pelayanan terhadap orang-orang yang .
Pengorbanan bukan Fasilitas.
Menjadi pemimpin  bukan untuk menikmati kemewahan atau kesenangan hidup dengan berbagai fasilitas duniawi yang menyenangkan, tapi justru ia harus mau berkorban dan menunjukkan pengorbanannya ketika masyarakat yang dipimpinnya berada dalam kondisi sulit.
Keteladanan dan kepoloporan, bukan pengekor 
Dalam segala hal baik itu dalam kebaikan, seorang pemimpin seharusnya menjadi teladan dan pelopor bagi anak buahnya, bukan malah menjadi pengekor yang tidak memiliki sikap terhadap nilai-nilai kebenaran dan kebaikan. Ketikas eorang pemimpin menyerukan kejujuran kepada rakyat yang dipimpinnya, maka ia telahmenunjukkan kejujuran itu.

Menjadi Pemimpin sangat mudah. Asal kita mengerti Konsep Kepemimpinan kita tidak perlu khawatir akan ketidak-beruntungan. Sebagai Pemimpin kita tidak menyakiti atau merugikan orang lain. Bila kita bertemu dengan kekuatan yang lebih kecil, kita berada pada posisi untuk mempengaruhi mereka. Namun bila kita bertemu dengan kekuatan yang lebih besar maka kita menciptakan kesempatan untuk memperoleh jalan kita. Sehingga bila kita ingin maju, maka selalu rendah hati, dengan demikian semua orang senang. Pemimpin yang baik adalah selalu ada terbuka bagi semua orang.
II.2 TEORI KEPEMIMPINAN
Teori kepemimpinan merupakan penggeneralisasian suatu seri perilaku pemimpin dan konsep-konsep kepemimpinannya, dengan menonjolkan latar belakang historis, sebab-sebab timbulnya kepemimpinan, persyaratan pemimpin, sifat utama pemimpin, tugas pokok dan fungsinya serta etika profesi kepemimpinan (Kartini Kartono, 1994: 27).
Pemimpin dan kepemimpinan selalu diperlukan dalam setiap masa. Sebab-sebab munculnya pemimpin Ada beberapa sebab seseorang menjadi pemimpin, antara lain:
a.  Seseorang ditakdirkan lahir untuk menjadi pemimpin. Seseorang menjadi pemimpin melalui usaha penyiapan dan pendidikan serta didorong oleh kemauan sendiri.
b. Seseorang menjadi pemimpin bila sejak lahir ia memiliki bakat kepemimpinan kemudian dikembangkan melalui pendidikan dan pengalaman serta sesuai dengan tuntutan lingkungan.
Untuk mengenai persyaratan kepemimpinan selalu dikaitkan dengan kekuasaan, kewibawaan, dan kemampuan.
Teori-teori dalam Kepemimpinan
a)      Teori Sifat
Teori ini bertolak dari dasar pemikiran bahwa keberhasilan seorang pemimpin ditentukan oleh sifat-sifat, perangai atau ciri-ciri yang dimiliki pemimpin itu. Maka untuk menjadi seorang pemimpin yang berhasil, sangat ditentukan oleh kemampuan pribadi pemimpin atau kualitas seseorang dengan berbagai sifat, perangai atau ciri-ciri di dalamnya.
Ciri-ciri ideal yang perlu dimiliki pemimpin menurut Sondang P Siagian (1994:75-76) adalah:
 – pengetahuan umum yang luas, daya ingat yang kuat, rasionalitas, obyektivitas, pragmatisme, fleksibilitas, adaptabilitas, orientasi masa depan;
– sifat inkuisitif, rasa tepat waktu, rasa kohesi yang tinggi, naluri relevansi, keteladanan, ketegasan, keberanian, sikap yang antisipatif, kesediaan menjadi pendengar yang baik, kapasitas integratif;
– kemampuan untuk bertumbuh dan berkembang, analitik, menentukan skala prioritas, membedakan yang urgen dan yang penting, keterampilan mendidik, dan berkomunikasi secara efektif.
b)      Teori Perilaku
Kepemimpinan merupakan perilaku seorang individu ketika melakukan kegiatan pengarahan suatu kelompok ke arah pencapaian tujuan. Dalam hal ini, pemimpin mempunyai deskripsi perilaku:
Ø  Perilaku seorang pemimpin yang cenderung mementingkan bawahan memiliki ciri ramah tamah, mau berkonsultasi, mendukung, membela, mendengarkan, menerima usul dan memikirkan kesejahteraan bawahan serta memperlakukannya setingkat dirinya.
c)      Berorientasi kepada bawahan dengan perhatian pribadi pemimpin pada pemuasan kebutuhan bawahan serta menerima perbedaan kepribadian, kemampuan dan perilaku bawahan serta produksi perilaku pemimpin yang berorientasi.
d)     Teori Situasional
Keberhasilan seorang pemimpin ditentukan oleh ciri kepemimpinan dengan perilaku tertentu yang disesuaikan dengan tuntutan situasi kepemimpinan dan situasi organisasional yang dihadapi dengan memperhitungkan faktor waktu dan ruang. Faktor situasional yang berpengaruh terhadap gaya kepemimpinan tertentu menurut Sondang P. Siagian (1994:129) adalah :
* Jenis pekerjaan dan kompleksitas tugas;
* Bentuk dan sifat teknologi yang digunakan;
* Persepsi, sikap dan gaya kepemimpinan;
* Norma yang dianut kelompok;
* Rentang kendali;
* Ancaman dari luar organisasi;
* Tingkat stress;
* Iklim yang terdapat dalam organisasi.
Efektivitas kepemimpinan seseorang ditentukan oleh kemampuan “membaca” situasi yang dihadapi dan menyesuaikan gaya kepemimpinannya agar cocok dengan dan mampu memenuhi tuntutan situasi tersebut. Penyesuaian gaya kepemimpinan dimaksud adalah kemampuan menentukan ciri kepemimpinan dan perilaku tertentu karena tuntutan situasi tertentu.
Selain itu untuk menjadi pemimpin yang baik harus memenuhi syarat, yaitu:
1.      Pemimpin mampu memimpin dirinya sendiri.
Seorang pemimpin sejati harus mengetahui bagaimana caranya memimpin dirinya sendiri. Tidak hanya memberikan contoh baik kepada karyawannya, tetapi ikut berperan serta, bekerja, atau terlibat dalam seluruh pekerjaan.
2.      Jangan jadikan kerajaan.
Pemimpin yang bijaksana berarti (seakan-akan) Anda telah mempunyai bakat untuk menduduki posisi tersebut. Tapi ingat, jangan ciptakan sebuah kerajaan. Pemimpin yang secara kebetulan jadi bos, sering juga secara kebetulan membentuk suatu sistem aturan yang tidak perlu dan terlalu mengekang. Aturan bagi karyawan memang perlu, tapi tak perlu berlebihan.
3.       Selalu terbuka mencari bentuk baru.
Salah satu kunci keberhasilan dari menjalankan bisnis adalah mengulang-ulang sesuatu yang terbukti berhasil. Masalahnya, seorang pemimpin yang secara kebetulan jadi pemimpin, cenderung terus saja mengulang metode tadi dan tak berani melakukan terobosan baru. Sebaliknya, pemimpin sejati mengakui keberhasilannya tetapi juga menyadari bahwa selalu ada jalan lain untuk membuat sesuatu lebih baik lagi.
4.      Kepribadian kuat & tanggung jawab.
Memang benar Anda yang memegang kekuasaan. Tapi itu tak berarti Anda boleh melakukan apa saja tanpa memikirkan tanggung jawabnya. Jangan hanya menuntut bawahan untuk menyelesaikan tugas dengan baik, tapi Anda pun harus memberi con-
toh yang baik. Jangan lupa, Anda adalah panutan mereka.
5.       Menuntaskan pekerjaan.
Banyak pemimpin berkata, “permainannya” telah selesai. Padahal, seorang pemimpin sejati, tidak akan pernah merasa selesai bekerja. Tiap hari pasti ada masalah baru yang harus segera dituntaskan. Entah komplain dari klien atau bawahan yang membuat ulah.
6.      Beri penghargaan selayaknya.
Pemimpin sejati harus mempunyai tangan yang kuat sepertisi Popeye setiap kali habis makan bayam. Prestasi yang baik menuntut timbal baik yang riil. Pemimpin yang mempunyai mata jauh ke depan sangat dikagumi dan dihargai, tetapi haruslah dengan sesuatu tindakan yang nyata pula, misalnya memberi promosi, bonus, dan bentuk penghargaan yang nyata atas prestasi karyawan.
7.      Tak berhenti belajar.
Jauh sebelum para eksekutif ber-pendapat bahwa keahlian memimpin berasal dari semacam anugerah yang menakjubkan, tetap saja seorang pemimpin yang dapat dipercaya juga berarti harus terus dan banyak belajar.

II.3 PEMIMPIN YANG MELAYANI
Kepemimpinan yang melayani dimulai dari dalam dan kemudian bergerak keluar untuk melayani mereka yang dipimpinnya. Keberhasilan seorang pemimpin sangat tergantung dari kemampuannya untuk membangun orang – orang di sekitarnya, karena keberhasilan sebuah organisasi sangat tergantung pada potensi sumber daya manusia dalam organisasi tersebut.
Pemimpin yang melayani adalah pemimpin yang mau mendengar. Mau mendengar setiap kebutuhan, impian, dan harapan dari mereka yang dipimpin. Pemimpin yang melayani adalah pemimpin yang dapat mengendalikam ego dan kepentingan pribadinya melebihi kepentingan public atau mereka yang dipimpinnya.
Tidak banyak pemimpin yang memiliki metode kepemimpinan ini. Karena hal ini tidak pernah diajarkan di sekolah – sekolah formal. Keterampilan seperti ini disebut dengan Softskill atau Personalskill. Dalam salah satu artikel di economist.com ada sebuah ulasan berjudul Can Leadership Be Taught, dibahas bahwa kepemimpinan (dalam hal ini metode kepemimpinan) dapat diajarkan sehingga melengkapi mereka yang memiliki karakter kepemimpinan. Ada 3 hal penting dalam metode kepemimpinan, yaitu :
*      Kepemimpinan yang efektif dimulai dengan visi yang jelas. Visi ini merupakan sebuah daya atau kekuatan untuk melakukan perubahan, yang mendorong terjadinya proses ledakan kreatifitas yang dahsyat melalui integrasi maupun sinergi berbagai keahlian dari orang – orang yang ada dalam organisasi tersebut. Bahkan dikatakan bahwa nothing motivates change more powerfully than a clear vision.
*      Seorang pemimpin yang efektif adalah seorang yang responsive. Artinya dia selalu tanggap terhadap setiap persoalan, kebutuhan, harapan, dan impian dari mereka yang dipimpin.
*      Seorang pemimpin yang efektif adalah seorang pelatih atau pendamping bagi orang – orang yang dipimpinnya (performance coach). Artinya dia memiliki kemempuan untuk menginspirasi, mendorong dan memampukan anak buahnya dalam menyusun perencanaan (termasuk rencana kegiatan, target atau sasaran, rencana kebutuhan sumber daya, dsb),.
Pemimpin yang melayani bukan sekedar memperlihatkan karakter dan integritas, serta memiliki kemampuan metode kepemimpinan, tapi dia harus menunjukkan perilaku maupun kebiasaan seorang pemimpin. Dalam buku Ken Blanchard disebutka perilaku seorang pemimpin, yaitu :
*        Pemimpin tidak hanya sekedar memuaskan mereka yang dipimpin, tapi sungguh – sungguh dia memiliki misi untuk senantiasa memuliakan Tuhan dalam setiap apa yang dipikirkan, dikatakan, dan diperbuatnya.
*        Pemimpin focus pada hal – hal spiritual dibandingkan dengan sekedar kesuksesan duniawi. Apapun yang dilakukan bukan untuk mendapat penghargaan, tapi melayani sesamanya.
*        Pemimpin sejati senantiasa menyelaraskan (recalibrating ) dirinya terhadap komitmen untuk melayani Tuhan dan sesama. Melalui solitude (keheningan), prayer (doa), dan scripture (membaca Firman Tuhan ).
Pemimpin yang melayani adalah pemimpin yang dapat mengendalikan ego dan kepentingan pribadinya melebihi kepentingan publik atau mereka yang dipimpinnya. Mengendalikan ego berarti dapat mengendalikan diri ketika tekanan maupun tantangan yang dihadapi menjadi begitu berat.

Menurut James A.F Stonen, tugas utama seorang pemimpin adalah:
*      Seorang pemimpin bertanggung jawab untuk bekerja dengan orang lain, salah satu dengan atasannya, staf, teman sekerja atau atasan lain dalam organisasi sebaik orang diluar organisasi.
*      Seorang pemimpin bertanggungjawab untuk menyusun tugas menjalankan tugas, mengadakan evaluasi, untuk mencapai outcome yang terbaik. Pemimpin bertanggung jawab untuk kesuksesan stafnya tanpa kegagalan.
*      Proses kepemimpinan dibatasi sumber, jadi pemimpin harus dapat menyusun tugas dengan mendahulukan prioritas. Dalam upaya pencapaian tujuan pemimpin harus dapat mendelegasikan tugas-tugasnya kepada staf
Beberapa ciri dan keutamaan kepemimpinan yang melayani yang harus melekat pada diri seorang pemimpin-pelayan adalah sebagai berikut :
  1. Memiliki Visi Pemimpin.
Visi adalah arah ke mana organisasi dan orang-orang yang dipimpin akan dibawa oleh seorang pemimpin. Visi adalah masa depan yang realistis, dapat dipercaya dan menjembatani masa kini dengan masa depan yang lebih baik sesuai kondisi (sosial politik, ekonomi dan budaya) yang diharapkan. Visi juga mengandung harapan-harapan (atau bahkan mimpi) yang memberi semangat bagi orang-orang yang dipimpin.
2.      Orientasi pada Pelayanan.
Pemimpin-pelayan berorientasi pada pelayanan, bukan untuk mencari pujian atau penghormatan diri. Sikap melayani terutama ditujukan untuk mereka yang paling membutuhkan pelayanan. Ia harus berpihak kepada mereka yang secara sosial ekonomi, pendidikan dan sosial budaya membutuhkan pelayanan lebih besar.
  1. Membangun Kepengikutan (Followership).
Pemimpin mengutamakan terciptanya kepengikutan (followership) karena dalam kenyataannya keberhasilan organisasi lebih banyak ditentukan oleh para pengikut atau para pemimpin di bawahnya. Pengikut yang bekerja dengan semangat dan memiliki komitmen penuh akan menentukan keberhasilan pemimpin.
  1. Membentuk Tim dan Bekerja dengan Tim.
            Pemimpin-pelayan harus membentuk tim (team work) dan bekerja dengan tim tersebut. Ia meminta tim untuk mengikutinya, menjelaskan visi dan misi, serta mempercayakan timnya untuk bekerja. Setia pada Misi.
Misi pemimpin adalah melayani mereka yang membutuhkan. Ia harus selalu setia pada misi pelayanan dalam kondisi apa pun,  kondisi baik atau buruk, karena dengan demikian tujuan organisasi dapat dicapai.
  1. Menjaga Kepercayaan.
            Menjadi pemimpin adalah menerima kepercayaan dari Tuhan Yang Maha kuasa melalui organisasi atau pemerintah untuk memimpin rakyat. Pemimpin adalah orang-orang pilihan di antara sejumlah orang-orang lain dan pilihan itu didasarkan pada beberapa kelebihan tertentu yang menyebabkan ia dipercaya untuk menjadi pemimpin. Mengambil Keputusan.
Keputusan pemimpin adalah kekuatan dalam memimpin dan mengelola organisasi. Seorang pemimpin-pelayan harus berani mengambil keputusan yang membuktikan keberpihakannya pada rakyat kecil.
  1. Melatih dan Mendidik Pengganti.
Melatih dan mendidik pengganti (membentuk kader ) merupakan kewajiban seorang pemimpin. Seharusnya ada beberapa lapisan kader pengganti apabila pemimpin berhalangan atau memasuki masa purnatugas. Namun, pemimpin cenderung berkeinginan selama mungkin berkuasa, sementara kader-kader potensial tersingkir karena faktor usia atau faktor-faktor lain (politik, ekonomi, egosime kelompok dll).
7.      Memberdayakan kaum Perempuan.
Pemimpin menggunakan manajemen “Omega” yaitu gaya kepemimpinan Alpha yang maskulin dan Beta yang feminin, sebab dengan mengendalikan energi spiritual, baik laki-laki maupun perempuan bisa diberdayakan menjadi pemimpin-pemimpin yang dibutuhkan pada masa mendatang.
8.      Memberi Tanggung Jawab.
Memberi tanggungjawab kepada bawahan adalah memberi kesempatan kepadanya untuk berkembang dan tentu saja mengawasi serta kemudian meminta pertanggungjawaban. Membuat orang bertanggungjawab adalah memberi mereka kesempatan menggapai keberhasilan, dan hal itu dimulai dari hal-hal yang kecil.
9.      Memberi Teladan.
Pemimpin memberi teladan dengan apa yang mereka lakukan. Sesudah itu ia menganjurkan pengikutnya untuk melakukan apa yang diteladaninya, dan kemudian mengharuskan mereka mengikuti teladan itu.
II.4 PEMIMPIN YANG SEJATI
Pemimpin sejati fokus pada hal-hal spiritual dibandingkan dengan sekedar kesuksesan duniawi. Baginya kekayaan dan kemakmuran adalah untuk dapat memberi dan beramal lebih banyak. Apapun yang dilakukan bukan untuk mendapat penghargaan, tetapi untuk melayani sesamanya. Dan dia lebih mengutamakan hubungan atau relasi yang penuh kasih dan penghargaan, dibandingkan dengan status dan kekuasaan semata.
Empat Kriteria Pemimpin Sejati yaitu:
*   Visioner: Punyai tujuan pasti dan jelas serta tahu kemana akan membawa para pengikutnya. Tujuan Hidup Anda adalah Poros Hidup Anda. Andy Stanley dalam bukunya Visioneering, melihat pemimpin yang punya visi dan arah yang jelas, kemungkinan berhasil/sukses lebih besar daripada mereka yang hanya menjalankan sebuah kepemimpinan.
*   Sukses Bersama: Membawa sebanyak mungkin pengikutnya untuk sukses bersamanya.
*   Mau Terus Menerus Belajar dan Diajar (Teachable and Learn continuous): Banyak hal yang harus dipela ari oleh seorang pemimpin jika ia mau terus survive sebagai pemimpin dan dihargai oleh para pengikutnya.
*   Mempersiapkan Calon-calon Pemimpin Masa depan: Pemimpin Sejati bukanlah orang yang hanya menikmati dan melaksanakan kepemimpinannya seorang diri bagi generasi atau saat dia memimpin saja.
II.5 HUBUNGAN KEARIFAN LOKAL DENGAN KEPEMIMPINAN
Kearifan local yaitu spirit local genius yang disepadankan maknanya dengan pengetahuan, kecerdikan,kepandaian, keberilmuan, dan kebijaksanaan dalam pengambilan keputusan dan berkenaan dengan penyelesaian masalah yang relative pelik dan rumit,
Pemimpin perlu mendalami kearifan lokal, sehingga kepemimpinannya memiliki karakter. Ketika kearifan itu diajarkan dan diolah, maka akan menghasilkan seorang pemimpin yang berkarakter dan pada akhirnya memiliki kepemimpinan dengan hati nurani.
 Memimpin itu harus dengan hati nurani, bukan hanya mengandalkan kecerdasan. Pemimpin juga harus mampu melihat permasalahan dari berbagai sudut, kemudian memutuskan dengan hati nurani. Seorang pemimpin harus seperti tanah, yang tetap bisa memberikan pertumbuhan meskipun diinjak-injak.



BAB III
PENUTUP
III. 1 KESIMPULAN
Kata pimpin mengandung pengertian mengarahkan, membina atau mengatur, menuntun dan juga menunjukkan ataupun mempengaruhi. Pemimpin mempunyai tanggung jawab baik secara fisik maupun spiritual terhadap keberhasilan aktivitas kerja dari yang dipimpin, sehingga menjadi pemimpin itu tidak mudah dan tidak akan setiap orang mempunyai kesamaan di dalam menjalankan kepemimpinannya serta mampu melayani bawahan dalam arti pemimpin yang mau mendengar setiap kebutuhan, impian dan harapan dari mereka yang dipimpinnya.
III. 2 SARAN
            Pemimpin itu sangat penting dalam suatu organisasi atau dalam segala proses kehidupan, karena dengan adanya pemimpin mapu membing dan mengarahkan bawahan atau anggotanya untuk menjadi lebih baik lebih teratur dan selaras.
Pemimpin bukan sekedar gelar atau jabatan yang diberikan dari luar melainkan sesuatu yang tumbuh dan berkembang dari dalam diri seseorang. Kepemimpinan lahir dari proses internal (leadership from the inside out).
III.3 DAFTAR PUSTAKA
*      Kartini Kartono. Dr. Pemimpin Dan Kepemimpinan, Jakarta, PT. Raja Grafindo Persada, 1998.
*      Karjadi. M. Kepemimpinan ( Leadership ), Bogor, 1987.
*      C. Maxwell, John, 2001, Mengembangkan Kepemimpinan di Sekeliling Anda, Jakarta : Mitra Media.
*      Musakabe, Herman. 2004. Mencari Kepemimpinan Sejati, di Tengah Krisis dan Reformasi. Jakarta : Penerbit Citra Insan Pembaru.
*      Seda, Frans, 1996. Kekuasaan dan Moral, Politik Ekonomi Masyarakat Indonesia Baru. Jakarta : Gramedia Widiasarana Indonesia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar